16 Tahun Meninggal, Tanahnya Terbit AJB, Mungkinkan Orang Mati Tandatangan ?

Kanigaran, portalbromo.com – Polemik jual beli tanah di mana pemilik tanah telah meninggal sebelum perbuatan hukum dilakukan, mungkinkah ? Sepertinya hal ini terjadi pada (alm.) Moeasin, warga kelurahan Kanigaran Kota Probolinggo.

Moeasin telah meninggal di tahun 2002 atau 15 tahun lalu, namun bagaimana bisa orang yang sudah mati bisa menjual tanah.

Jika dirasa almarhum pernah memberi surat kuasa kepada seseorang, namun ketika pemberi kuasa meninggal, maka dengan sendirinya mengugurkan pemberian kuasa.

Namun pada kenyataanya tanah yang dimiliki (alm.) Moeasin kini sebagian telah beralih nama kepemilikan kepada orang lain.

Sala satu ahli waris (alm.) Moeasin, Aziz yang merasa tidak pernah mengalihkan kepemilikan lahan itu, kini mempermasalahakan hal teraebut.

Menurutnya sejauh ini pihak ahli waris tidak pernah mengalihkan kepemilikan atas lahan seluas hampir 1000 M persegi tersebut ke siapapun.

Di kumpulkan dari berbagai sumber demikian kronologi beralihnya kepemilikan tanah milik (alm.) Moeasin menjadi milik orang lain.

Pada masa hidupnya (alm.) Moeasin memiliki sebidang tanah di Jl. Slamet Riyadi seluas 980 M persegi dengan Sertifikat Hak Milik (SHM) no . 2784

Pada tahun 2002, (alm.) Moasin meninggal dunia, dan pada tahun 2016, lahan tersebut di kontrak /sewa kan kepada sebut saja ABW.

Pada tahun 2019, sertifikat atas lahan tersebut hilang, guna menerbitkan sertifikat duplikat, dalam hal ini para ahli waris meminta salinan copy ke Badan Pertanahan Nasional ( BPN )Kota Probolinggo.

Pada saat proses pengurusan sertifikat duplikat itulah diketahui bahwa lahan seluas hampir 1000 M persegi atas nama Moeasin tersebut telah terjadi proses pemecahan.

Sehingga lahan yang awalnya dengan SHM atas nama Moasin dengan luas 980M persegi terpecah menjadi dua sertifikat.

Sertifikat pertama SHM no. 5392 atas nama Moasin dengan luas 485 M persegi, yang kedua SHM no. 5391 atas nama ABW dengan luas 495 M persegi melalui proses Akte Jual Beli (AJB) pada 31 Januari 2018 dengan notaris Fenny Herawati.

Saat ditemui di kantornya, Fenny Herawati tidak mau memberikan penjelasan, di singgung apa yang menjadi dasar penerbitan AJB mengingat pemilik atas nama sertifikat telah meninggal 16 tahun yang lalu, Fenny hanya menjawab semua kelengkapan berkas dia dapat dari pegawai freelance nya.

“Saya terima berkas dari pegawai freelance saya Linda, silakan konfirmasi ke dia” kata Fenny saat ditemui di kantornya di Jl.A. Yani, Sabtu (29/02).

Linda yang anggap paling tau asal usul berkas untuk penerbitan AJB lahan milik (alm.) Moeasin enggan berkomentar, menurutnya ABW selaku pembeli lebih mengetahui hal ini.

“Saya tidak mau berkomentar mas, sampean tanyakan saja ke pembelinya ABW”. Jawab Linda sat dihubungi lewat seluler.

Hingga berita ini diterbitkan, ABW selaku pembeli belum bisa dikonfirmasi.

Kamari, SE Sekjen Aliansi Masyarakat Peduli Probolinggo (AMPP) menyayangkan kejadian ini, pria yang aktif di organisasi pergerakan tersebut menyampaikan akan memberikan pendampingan pada pihak korban, menurutnya aneh, jika ada orang meninggal namun bisa tanda tangan.

“Sebagai notaris seharusnya lebih profesional dalam menjalankan tupoksi, karena jika terjadi suatu kesalahan sekecil apapun yang berkaitan dengan penerbitan akte jual beli (AJB) akan berakibat fatal, baik untuk notarisnya, maupun bagi masyarakat.”

Kamari juga menjelaskan akan mengkaji dalam proses penerbitan AJB milik (alm.) Moeasin, mengingat pihak ahli waris tidak pernah merasa mengalihkan kepemilikan atas lahan tersebut.

“Dalam konteks ini, kalau dugaan terhadap Fenny adalah benar, bisa jadi jabatan akan dipertaruhkan, sesuai dengan Peraturan Kepala (Perka) BPN No.1 2006, akan ada sanksi yang diberikan”

“Dan juga dalam hal ini pihak notaris diduga melanggar kode etik kenotarisan. Karena dalam penerbitan AJB itu sudah ada peraturan yang mengikat sesuai dengan PP No. 37 tahun 1998” pungkasnya. (tim.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll Up