Polemik Simpang Empat Randu Pangger, Mulai Dari Water Barrier Hingga Muncul Pak Oga cs

Portalbromo.com – Ramai jadi perbincangan oleh pengguna jalan simpang empat randu pangger khususnya warga kota Probolinggo.

Pasalnya rekayasa lalulintas yang ada di simpang empat tersebut terkesan membingungkan, terutama untuk pengguna jalan yang dari arah timur (Banyuwangi).

Iwan ( 37) warga kelurahan Ketapang menyampaikan hal itu, menurutnya semua pengguna jalan dari arah timur (Banyuwangi) yang hendak ke arah kota harus belok ke kiri mengikuti water barrier ( penyekat jalan raya berwarna oranye yang dilengkapi pemantul cahaya) sepanjang kurang lebih 30 meter.

Ia menjelaskan hal tersebut terlihat aneh, karena selain menimbulkan kemacetan saat volume kendaraan padat, juga memuncul kan pungli, karena di penghujung water barrier sudah siap para pemandu sopir dadakan alias pak Ogah yang meminta upah layanan kepada sopir yang hendak putar balik.

“Sebenarnya hal itu tidak aneh, ketika yang di perbolehkan putar balik di ujung pembatas hanya warga yang berkepentingan di kota saja, tapi ini kan semua kendaraan boleh, kenapa tidak dibuka seperti biasa kalau tanpa pengecualian”. kata Iwan.

Taviv, Kasatlantas Polresta Probolinggo menyampaikan, rekayasa lalu lintas di simpang empat randu pangger merupakan bagian dari pananganan pencegahan pandemi covid 19, artinya ada banyak pihak bertugas di sana.

Terkait peletakan water barrier yang memanjang hingga ke arah selatan, tujuan awalnya adalah sebagai pemisah antara warga kota Probolinggo dengan warga luar kota Probolinggo.

“Rekayasa lalulintas di simpang empat randu pangger adalah dalam rangka penanganan pandemi corona, jadi di sana tidak hanya kepolisian, juga ada dari satpol PP, Dinas Peruhubungan, Dinas Kesehatan” kata Taviv saat di temui di kantornya Kamis, (28/5) Siang.

“Dalam hal ini polri hanya memberikan masukan terkait rekayasa lalu lintas, selebihnya untuk penerapan sudah di rana Dinas Perhubungan kota Probolinggo, karena yang punya water barrier kan Dishub, polisi tidak punya itu”. Lanjutnya.

Taviv juga menyayangkan jika ada kendaraan yang hendak ke arah Surabaya dan Malang ikut putar balik, harusnya mereka lurus melewati jalur selatan.

“Kita memang menyayangkan kendaraan yang dari luar kota juga ikut putar balik, sedangkan kita mau melakukan penindakan dasarnya apa, memang tidak ada rambu-rambu larangan putar balik jadi kan repot juga” jelas Taviv.

Terpisah kepala dinas perhubungan kota Probolinggo Sumadi menanggapi, penempatan water barrier memang untuk pemisah warga kota dan luar kota Probolinggo.

“Kita sudah coba berbagai cara, hingga pada akhirnya kami menambah jarak titik putarnya, dengan harapan hanya yang punya kepentingan di kota Probolinggo atau warga Probolinggo saja yang mau putar balik” kata Sumadi.

Namun juga diakuinya hal tersebut belum sepenuhnya berhasil karena ada oknum-oknum yang memanfaatkan untuk mencari keuntungan.

“Awalnya cukup efektif, tapi lama kelamaan ada oknum pemandu sopir dadakan, alias pak Oga ini yang mengarahkan mereka yang dari luar kota untuk juga putar balik, saya juga jengkel, mala saya menyarankan untuk dilaporkan saja punglinya, sudah berkali kali di ingatkan, memang ilang sehari dua hari, besoknya ada lagi”

“Kalau sudah seperti ini rananya pada penertiban, tapi saya percaya satpol PP juga geram dengan adanya para pak Oga ini”. ucapnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Agus Efendi kepala Satpol PP kota Probolinggo menaggapi, sejauh ini dirinya juga banyak mendapat aduan warga terkait hal itu, Ia menyampaikan segera melakukan koordinasi untuk penyelesaianya.

“Informasi yang kami terima memang kendaraan yang putar balik adalah ulah dari pak Oga ini, mereka memang mulai meresahkan hal ini terbukti dari banyak aduan warga, segera kita akan koordinasikan untuk penyelesaianya.” Jawabnya melalui pesan whatsapp.(mr)

8 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Scroll Up